Jumat, 09 Januari 2009

Pikat Kemilau Investasi Emas

Ekonomi
28/12/2008 - 20:31
Asteria

NILAH.COM, Jakarta – Ketegangan di Timur Tengah dan Asia Selatan memicu naiknya emas ke harga tertinggi, pekan lalu. Di penghujung tahun, daya tarik logam berharga itu kembali memikat investor sebagai investasi safe haven. Kontrak emas bulan Februari naik US$ 23,20 (2.7%) dan ditutup di level US$ 871,20 per ons di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Sementara harga emas di pasar spot di London berakhir di level $ 868,20 per troy ounce-nya. Inilah persentase kenaikan terbesar untuk kontrak teraktif sejak 17 Desember.

Harga emas naik 4% sepanjang pekan lalu dan mencapai 6,4% bulan Desember ini. Faktor safe haven, pilihan investasi ketika ketegangan militer mengancam pasar valas, telah mendongkrak harga emas akhir-akhir in

Seperti diketahui, militan Palestina meluncurkan roket terbesar dan menyerang Israel setelah perjanjian gencatan senjata yang berlaku selama enam bulan, berakhir 19 Desember lalu. Israel pun membombardir Gaza dan menewaskan lebih dari 200 orang. Di Asia Selatan, tentara Pakistan dialihkan dari wilayah perbatasan Afganistan ke perbatasan India.

“Penjelasan yang paling masuk akal untuk kenaikan harga emas adalah ketegangan geopolitik di Gaza dan di India dan Pakistan,” ujar Leonard Kaplan, presiden Prospector Asset Management di Evanston, Illinois.

Sedangkan Menteri Luar Negeri India, Pranab Mukherjee, telah menekan Pakistan secara diplomatik agar menuntaskan serangan teroris yang terjadi di Mumbai, bulan lalu. Hal ini mengingat India adalah konsumen emas terbesar di dunia dengan pembelian lebih dari 20% tahun lalu.

Adapun harga minyak mentah mengalami reli 7,2%. Menurut data BP Plc yang dipublikasikan dalam review tahunan energi dunia setiap bulan Juni, Timur Tengah yaitu Israel, Palestina, dan Asia Selatan merupakan kawasan penting, karena bertanggung jawab terhadap 31% produksi minyak global tahun 2007.

“Harga emas dan minyak diprediksikan akan mencapai harga tertingginya tahun ini sejak terjadinya perang Arab-Israel tahun 1967 lalu,” ujar Ralph Preston, analis komoditas di Heritage West Financial Inc., San Diego.

Ron Goodis, direktur perdagangan ritel di Equidex Brokerage Group Inc. Closter, New Jersey mengatakan, harga emas yang mengalami kenaikan 4% tahun ini, merupakan satu-satunya logam dengan harga stabil setahun ini. Hal ini memikat investor yang sedang mencari tempat aman setelah dolar anjlok dan imbal hasil surat utang AS jangka pendek jatuh di bawah 0%.

Emas menjadi investasi bagus bila dibandingkan suku bunga dan imbal hasil yang rendah. Ketika yang lain menjadi tidak aman, atau berimbal hasil sangat tidak menarik, emas menawarkan keuntungan yang signifikan,” ujar Goodis.

The Federal Reserve pada 16 Desember lalu telah memangkas suku bunga acuannya hingga mencapai 0,25% dari semula 1%. Padahal, suku bunga The Fed pada September 2007 masih di level 5,25%. Namun, secara bertahap dipotong seiring terjadinya resesi ekonomi.

Untuk ke depannya, harga emas diperkirakan masih akan cenderung bullish. Pada pertengahan September 2008, penambang emas besar dunia meramalkan bahwa produksi akan turun sampai 2,3% di tahun 2008 menjadi 2,422 ton, tingkat produksi terendah sejak tahun 1996. Selain itu, pada 20 November 2008 lalu, Dewan Emas Dunia (WGC) merilis bahwa permintaan terhadap emas dunia telah naik 18% di kuartal ketiga tahun ini dibandingkan setahun sebelumnya.

Di sisi lain sejumlah pengamat sempat memprediksi bahwa produksi emas dunia akan turun 3% di tahun 2008 dan lebih lanjut merosot 5% untuk tahun 2009. Pengurangan suplai produksi akan membuat emas semakin dilirik investor. Terakhir di penghujung tahun ini, selain memanasnya geopolitik kawasan Timur Tengah dan India, beredar isu pasar bahwa krisis finansial telah membuat tingkat produksi dari koin emas berkurang.

Harga emas global saat ini masih berpotensi menguat memasuki Januari di tahun yang baru, 2009. Level resistensi yang akan dituju adalah pada US$ 932 per troy ounce.

Emas menjadi bagian penting dalam sebuah portofolio investasi yang terdiversifikasi. Hal ini karena harga emas cenderung akan naik ketika nilai dari instrumen keuangan, seperti saham dan obligasi, turun.

Sementara itu, meskipun harga emas memiliki volatilitas yang tinggi pada jangka pendek, emas selalu berhasil mempertahankan nilainya dari waktu ke waktu. Karena manfaatnya sebagai pelindung dari inflasi dan melemahnya mata uang utama, maka emas memang patut dipertimbangkan untuk dimiliki.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar